.jpg)
Judul : Republik Genthonesia
Penulis : Mbah Dipo
Penerbit : Pro You
Tebal : 254 halaman
Ukuran : 14 x 20 cm
Cetakan : 1,Januari 2009
“ Sisi Kelam-Terang Kehidupan Kita“
Era globalisasi ini, tiap sisi-sisi kehidupan rakyat Indonesia telah banyak terkontaminasi oleh budaya barat. Dan para rakyat pun secara tidak langsung menjadi ikut-ikutan. Rakyat berusaha keras untuk bisa mengadaptasikan diri dalam kehidupan sehari-harinya dengan budaya tersebut agar tak menjadi ketinggalan zaman. Bolehlah kita mencontoh budaya negara-negara yang maju, namun kita harus pintar-pintar memilah asupan dari luar tersebut. Apabila budaya tersebut sesuai dengan syariat, why not? Tetapi kalau melenceng, budaya itu tidak perlu dimasukkan dalam keseharian kita.
Ternyata dari hari ke hari, westernisasi semakin menjalar hampir pada tiap lini kehidupan. Budaya tersebut merasuk perlahan-lahan kedalam keseharian para rakyat Indonesia yang telah menjelma menjadi Londo Gosong. Adalah orang Indonesia yang bertingkah laku dan menginginkan kehidupan kesehariannya sama seperti orang Londo. Dan buku “ Republik Genthonesia ” ini akan menguak berbagai fenomena Londo Gosong yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita saat ini.
Penulisnya, Mbah Dipo, yang bernama asli dr. Insan Agung Nugroho ini, menampilkan sisi kelam hingga sisi terang fenomena Londo Gosong tersebut. Semua terungkap dengan sangat lugas. Dokter umum yang bekerja di Balai Kesehatan Masyarakat Dwi Ayu Rorotan, Cilincing dan sudah dikaruniai 4 orang anak ini, memang telah banyak makan garam. Berbagai pengalaman pahit-manis dan kisah-kisah nyata yang nyeleneh hingga membuat trenyuh telah dialaminya. Dan penulis menceritakan kisah-kisah tersebut dalam buku ini dengan begitu komunikatif dan ceplas-ceplos, apa adanya. Bahasa penyampaiannya pun ringan dan dihiasi dengan guyonan dari berbagai daerah. Maklum saja, jika dalam buku ini banyak istilah-istilah bahasa Jawa, sebab Mbah Dipo merupakan orang asli Karanganyar, yaitu salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Namun bagi pembaca dari luar daerah lainnya, tak perlu khawatir, karena setiap istilah bahasa daerah yang dituliskan, akan ada artinya di bagian bawah.
Buku ini tak melulu membahas tentang pergeseran budaya yang terjadi, namun juga membahas tentang politik sampai obat energik, reformasi sampai lokalisasi, serta membicarakan puasa hingga bagaimana mengurus negara. Pokoknya lengkap. Wacana kita tentang dunia luar pun akan menjadi semakin terbuka. Ternyata di luar sana ada ustad yang berdoa secara paketan. Pada acara apapun, baik acara syukuran maupun layatan, doa nya tetap sama. Ada pula cerita teladan dari tukang becak, dan masih banyak lagi cerita-cerita penuh makna yang dibahas dalam buku ini.
Membaca buku ini membuat kita menjadi terhanyut dalam tiap pembahasannya. Tak terkesan monoton, apalagi terkesan menggurui. Walaupun penulis menyisipkan beberapa ayat Al Qur’an dan hadis, namun itu semua dikemas dengan sangat apik. Sehingga membuat orang awam menjadi lebih mudah memahami setiap hikmah yang disampaikan mbah Dipo.
Bagi Anda yang sedang sedih, pusing atau tak bersemangat karena sedang menghadapi berbagai permasalahan yang mengusik kehidupan Anda, buku ini sangat pas sekali untuk dinikmati. Susunan kalimatnya yang mengalir dan kocak, membuat pikiran kita menjadi fresh kembali. Buku ini juga diharapkan dapat menjadi secercah cahaya bagi pambaca yang sedang meredup kilaunya. Dan semoga kandungan dari buku ini pun dapat menggerakkan hati pembaca untuk menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke hari.
Penulis : Mbah Dipo
Penerbit : Pro You
Tebal : 254 halaman
Ukuran : 14 x 20 cm
Cetakan : 1,Januari 2009
“ Sisi Kelam-Terang Kehidupan Kita“
Era globalisasi ini, tiap sisi-sisi kehidupan rakyat Indonesia telah banyak terkontaminasi oleh budaya barat. Dan para rakyat pun secara tidak langsung menjadi ikut-ikutan. Rakyat berusaha keras untuk bisa mengadaptasikan diri dalam kehidupan sehari-harinya dengan budaya tersebut agar tak menjadi ketinggalan zaman. Bolehlah kita mencontoh budaya negara-negara yang maju, namun kita harus pintar-pintar memilah asupan dari luar tersebut. Apabila budaya tersebut sesuai dengan syariat, why not? Tetapi kalau melenceng, budaya itu tidak perlu dimasukkan dalam keseharian kita.
Ternyata dari hari ke hari, westernisasi semakin menjalar hampir pada tiap lini kehidupan. Budaya tersebut merasuk perlahan-lahan kedalam keseharian para rakyat Indonesia yang telah menjelma menjadi Londo Gosong. Adalah orang Indonesia yang bertingkah laku dan menginginkan kehidupan kesehariannya sama seperti orang Londo. Dan buku “ Republik Genthonesia ” ini akan menguak berbagai fenomena Londo Gosong yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita saat ini.
Penulisnya, Mbah Dipo, yang bernama asli dr. Insan Agung Nugroho ini, menampilkan sisi kelam hingga sisi terang fenomena Londo Gosong tersebut. Semua terungkap dengan sangat lugas. Dokter umum yang bekerja di Balai Kesehatan Masyarakat Dwi Ayu Rorotan, Cilincing dan sudah dikaruniai 4 orang anak ini, memang telah banyak makan garam. Berbagai pengalaman pahit-manis dan kisah-kisah nyata yang nyeleneh hingga membuat trenyuh telah dialaminya. Dan penulis menceritakan kisah-kisah tersebut dalam buku ini dengan begitu komunikatif dan ceplas-ceplos, apa adanya. Bahasa penyampaiannya pun ringan dan dihiasi dengan guyonan dari berbagai daerah. Maklum saja, jika dalam buku ini banyak istilah-istilah bahasa Jawa, sebab Mbah Dipo merupakan orang asli Karanganyar, yaitu salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Namun bagi pembaca dari luar daerah lainnya, tak perlu khawatir, karena setiap istilah bahasa daerah yang dituliskan, akan ada artinya di bagian bawah.
Buku ini tak melulu membahas tentang pergeseran budaya yang terjadi, namun juga membahas tentang politik sampai obat energik, reformasi sampai lokalisasi, serta membicarakan puasa hingga bagaimana mengurus negara. Pokoknya lengkap. Wacana kita tentang dunia luar pun akan menjadi semakin terbuka. Ternyata di luar sana ada ustad yang berdoa secara paketan. Pada acara apapun, baik acara syukuran maupun layatan, doa nya tetap sama. Ada pula cerita teladan dari tukang becak, dan masih banyak lagi cerita-cerita penuh makna yang dibahas dalam buku ini.
Membaca buku ini membuat kita menjadi terhanyut dalam tiap pembahasannya. Tak terkesan monoton, apalagi terkesan menggurui. Walaupun penulis menyisipkan beberapa ayat Al Qur’an dan hadis, namun itu semua dikemas dengan sangat apik. Sehingga membuat orang awam menjadi lebih mudah memahami setiap hikmah yang disampaikan mbah Dipo.
Bagi Anda yang sedang sedih, pusing atau tak bersemangat karena sedang menghadapi berbagai permasalahan yang mengusik kehidupan Anda, buku ini sangat pas sekali untuk dinikmati. Susunan kalimatnya yang mengalir dan kocak, membuat pikiran kita menjadi fresh kembali. Buku ini juga diharapkan dapat menjadi secercah cahaya bagi pambaca yang sedang meredup kilaunya. Dan semoga kandungan dari buku ini pun dapat menggerakkan hati pembaca untuk menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke hari.