Kamis, 25 November 2010

Dari Resensi Jadi Digratisi ,,,,

Tepatnya Februari tahun 2006, saat aku baru saja memasuki semester 2 di kelas 1 pada sebuah SMA negeri di Yogyakarta. Siang itu, panas terik sangat terasa walaupun sedang di dalam kelas. Bu guru bahasa Indonesia memasuki kelas sambil membawa sebuah buku kecil. Siswa-siswi segera menata posisi duduknya untuk siap mengikuti pelajaran.

“ Ya anak-anak, silahkan kalian buka bukunya halaman 114 tentang penulisan resensi buku. Resensi adalah bla, bla, bla.. “ Sang guru yang berkacamata tersebut menerangkan panjang lebar mengenai pengertian resensi, hal-hal yang dibahas didalamnya, dan memberikan contoh-contoh tentang penulisan resensi yang baik. Aku mendengarkan dengan saksama.
Hm, sepertinya menarik materi ini,batinku. Aku mencatat beberapa poin penting yang berkaitan dalam penulisan resensi buku agar nampak lebih menarik. Termasuk mencatat kata-kata yang sebaiknya dihindari dan cara menata kata-kata agar pembaca tidak jenuh saat membaca.
“ Oke, tugas pertemuan minggu depan, kalian cari contoh resensi buku di koran atau majalah, kemudian kalian analisis tiap bagiannya. Jika tidak ada salah satu bagian, misalnya bagian kelemahan buku,tulis saja penulis tidak mencantumkan kelemahan buku tersebut. Selain itu, kalian juga buat resensi buku, seperti yang sudah dijelaskan tadi. Cari buku terbaru, minimal cetakan 2003. Ingat ya, yang dicari buku, bukan novel. Ada pertanyaan ??? “ Bu guru menutup buku kecilnya. Seluruh siswa mengangguk, seakan paham dengan penjelasan dari sang guru.
“ Eh, minimal berapa halaman ya resensinya? “ Aku malah bertanya pada sahabat sebangkuku, Dita, karena takut untuk menanyakannya pada sang guru.
“ Enggak tau ya, mungkin minimal 2 halaman. “ jawabnya.

Sepulang sekolah, aku membuka lemari buku yang ada di rumah. Mencari buku terbitan terbaru. Namun, hingga 3 lemari, buku yang sreg dan mudah diresensi belum kutemukan. Kalau novel yang baru malah ada, tapi syaratnya kan buku.
“ Haduh, ternyata bukunya jadul dan ‘berat-berat’. Gimana ini ??? Mesti cari dimana?? “ tiba-tiba azan Maghrib berkumandang. Aku bergegas mengambil air wudhu untuk pergi ke masjidku tercinta,masjid Jogokaryan. Saat pulang, tiba-tiba mataku terarah pada suatu plakat di depan masjid, “Pro U Media”.
“ Ya ampun, kenapa enggak beli di Pro U aja?? Pasti ada buku yang baru dan lebih murah harganya. “ ucapku sambil tersenyum kecil.
“ Besok aku mau kesana aja ah. Semoga ada buku yang menarik untuk aku resensi. “ harapku.

Keesokan harinya, kira-kira jam 1 siang, aku pergi ke Pro U, tapi ternyata tutup karena hari Ahad. Kemudian aku pergi ke toko buku di Hotel Jogokaryan. Aku memilih-milih buku yang ada, tapi belum ada yang sreg. Aku pun memutuskan untuk menghampiri kantor Pro U lagi, yang notabene rumah sang owner, mas Fani. Aku ketuk-ketuk pintunya hingga beberapa kali, tapi tidak ada sahutan. Hingga akhirnya, aku putuskan untuk pulang. Saat akan naik motor, mas Fani tiba-tiba datang. Alhamdulillah, batinku. Aku pun akhirnya memilih buku “ Cinta Kita, Beda “ dengan penulis Muhammad Nazhif Masykur dan Evi Ni’matuzzakiyah.
“ Berapa mas harganya? “ tanyaku. Mas Fani yang baik hati memberi diskon cukup besar. Aku tersenyum lebar. Hore, dapat murah, batinku.
“ Makasih ya mas. “ senyumku mengembang.

Ternyata membuat resensi tak bisa langsung dikerjakan tanpa membaca bukunya terlebih dahulu. Karena kita perlu mengetahui kelebihan dan kelemahan buku, termasuk isi dari buku itu. Dalam waktu beberapa hari, aku sudah selesai membaca buku tersebut. Buku yang menarik, simple, tapi berisi. Apalagi isinya yang pas dengan keadaanku saat itu.
“ Yap, sekarang saatnya dibuat resensi. “ Aku mengerjakan penuh semangat. Berhubung masih amatiran, aku membuka kembali catatan tentang resensi. Kata demi kata aku susun dengan hati-hati agar tercipta kalimat yang komunikatif dan isinya sesuai dengan poin-poin dalam resensi.
“ Akhirnya tugasnya selesai. “ ucapku sambil merenggangkan tangan.

Beberapa hari kemudian, aku mendapat SMS dari sahabatku, yang mengajakku pergi ke pameran buku. Sore harinya, kami pergi kesana. Aku melihat beberapa buku motivasi yang cukup menarik hatiku untuk membelinya. Aku bingung memilih yang mana. Sampai akhirnya, ada buku bersampul kuning, berjudul “ Zero to Hero “ karya Solihin Abu Izzudin, membuatku tak tahan untuk segera membelinya. Aku tertarik dari sinopsis pada sampul belakang buku tersebut.

Setiap ada waktu luang, aku membaca buku itu, dan tanpa sadar aku merasakan semangat luar biasa dari buku itu. Kisah-kisah yang diceritakan membuatku terinspirasi untuk melakukan lebih banyak kebaikan. Apalagi kisah-kisah tentang para pejuang yang secara fisik mereka catat, tapi mempunyai semangat dan kegigihan yang tak terkira. Aku menjadi lebih termotivasi untuk mengisi hari-hariku dengan lebih baik lagi dan lebih bermanfaat untuk orang lain. Buku itupun juga membantuku sebagai referensi saat ditunjuk kultum. Dari buku itu pula, aku banyak belajar untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.

Tiba-tiba saat tengah membaca, muncul suatu ide, “ AHAA!!! Mending aku buat resensi aja dari buku ini. Terus aku aku kirim ke koran lokal. Barangkali masuk. “ harapku. Ya, aku mencoba memanfaatkan kesempatan mempunyai buku itu untuk mengapresiasikan hobiku. Syukur-syukur jadi iseng-iseng berhadiah.

Bergegas aku mengambil catatan untuk membuat draf resensi buku itu. Berusaha merangkai kata demi kata yang ternyata tidak mudah,apalagi untuk di kirim ke media. Perlu bahasa yang lebih mengalir lagi supaya enak dibaca oleh pembacanya. Allah pun memberi kemudahan padaku untuk menyelesaikan resensi yang pertama kali aku kirim ke media. Setiap hari Ahad, aku mengecek di rubrik resensi koran tersebut, namun resensiku belum juga dimuat. Minggu demi minggu aku terus menunggu, hingga aku merasa putus asa. Kira-kira 4 minggu kemudian, aku melihat tulisanku di koran. “ Subhanallah, alhamdulillah. “ sungguh senang sekali rasanya saat itu. Aku menjadi lebih semangat lagi untuk sering menulis, apapun itu.

Siang harinya, aku mendapat SMS dari sahabatku,Lia, “ Wah, senenge sing dimuat ning koran... “ Aku membaca dengan tersenyum kecil.
Aku jadi malu karena teman-teman banyak yang mengetahuinya. Maklumlah, disitu aku menulis lengkap nama dan sekolahku. Tapi, aku juga senang karena mendapat dukungan dari banyak orang terutama ayahku, untuk lebih sering mengirimkan tulisan ke media.

Beberapa minggu kemudian, sore hari saat aku sedang pergi bersama sahabatku, Septi, tiba-tiba ada suara laki-laki memanggilku.
“ Dek Silvi... “ suara itu berasal dari samping kananku.
Siapa ya? Batinku dengan rasa keheranan. Orang itu berhenti di depan motor kami.
Oh, ternyata mas Fani, aku menghela nafas.
Mas Fani, selain sebagai owner Pro U, juga merupakan tim inti Takmir Masjid Jogokaryan. Sebelumnya, aku jarang sekali berbincang dengan beliau. Mungkin hanya saat rapat atau kajian, itupun tidak ngobrol langsung. Jadi rasanya agak grogi saat itu.
Wonten napa mas ? “ tanyaku.
Nek sempet dolan ning Pro U nggih. Ditunggu lho... “ ucap beliau sambil tersenyum, lalu mengucap salam dan pergi.
Haduh,ada apa ya? tanyaku dalam hati.
Yang jelas, beliau enggak mungkin aneh-aneh, kan udah punya istri,pikirku saat itu sambil tertawa kecil.
Oh nggih, insya Allah. “ jawabku dengan agak tenang.

Keesokan harinya, aku kesana sendiri. Rasanya bingung, deg-degan, pokoknya grogi banget. Dan ternyata...

Iki dek, silahkan milih pengen buku sing endi. Itung-itung dinggo bonus wingi wis nulis resensi. “ Beliau menunjukkan beberapa buku untuk aku pilih.
Rasanya kaget waktu diberitahu hal itu. Ya ampun, alhamdulillah, batinku.
Dengan malu-malu tapi mau, aku memilih buku “ Buktikan Cintamu ! “ karya Muhammad Nazhif Masykur.

Ya maklumlah, saat itu, darah remaja sedang mengalir deras dalam tubuhku, sehingga hal-hal yang berbau cinta membuatku lebih menarik untuk dibaca. Aku mengucapkan banyak terimakasih pada mas Fani. Aku tidak menyangka akan mendapat honor, sekaligus gratisan buku setelah menulis resensi. Rasanya senang banget waktu itu. Allah memberi banyak ujian kebahagiaan padaku. Aku berusaha memanfaatkan ujian itu agar lebih bermakna lagi. Aku juga ikut senang karena buku Zero To Hero menjadi best seller. Semoga kelak buku-buku Pro U lainnya juga best seller, kalau perlu malah mega best seller. Amin...

Sejak kejadian itu, aku jadi sering nulis resensi dan mempunyai motto “Herokan Diri Menuju Kebaikan”. Berhubung waktu itu aku belum punya penghasilan sendiri, alhasil buku-buku yang aku resensi terkadang pinjam di perpustakaan Rohis, pinjam teman, atau pernah juga malah dipinjami Pro U. Alhamdulillah, buku yang digratisi sama mas Fani, masuk media lagi. Buku-buku Pro U merupakan buku yang paling sering aku resensi, seperti Super Health, Let’s Go, Republik Genthonesia, Saat Cinta Datang Belum pada Waktunya, dan Nikah Emang Gue Pikirin. Namun, ada beberapa resensi yang tidak termuat. Sebenarnya masih banyak buku-buku Pro U yang menginspirasiku, tapi hanya sekedar aku baca. Karena aku sempat menyerah dan malas mengirimkan resensi lagi. Mungkin Allah ingin aku memperbaiki kembali kata demi kata yang aku tulis supaya lebih komunikatif dan mudah dipahami para pembaca. Ya, setidaknya aku mendapat banyak ilmu dari buku-buku yang aku baca.

Aku merasa sangat senang karena dapat membantu menginformasikan kepada orang lain tentang buku-buku Islami yang bermanfaat untuk dibaca, termasuk membantu penulis untuk melariskan bukunya. Kebaikan dan semangat yang tertanam didiriku, salah satunya dipengaruhi oleh ilmu yang aku dapatkan dari buku-buku Pro U,khusunya yang berbau motivasi. Kata-kata yang penuh gelora, penuh semangat, penuh perjuangan, seakan tertular ke dalam jiwaku.

Semenjak sering membaca buku-buku motivasi tersebut, aku jadi ingin masuk jurusan Psikologi. Karena pada saat itu buku-bukunya ditulis oleh orang Psikologi dan aku menganggap, “ Wah, kayakanya orang Psikologi pinter ngasih motivasi ke orang lain. “
Alhamdulillah, keinginan itu dikabulkan olehNya. Sungguh, hanya Alah yang memberiku petunjuk untuk memilih buku-buku terbaik yang mampu membuatku semakin dekat padaNya. Hanya Allah lah yang memberiku ide untuk memanfaatkan kegemaranku membaca menjadi salah satu sarana menjemput rezekiNya. ”Terimakasih ya Rabbi, terimakasih mas Fanni, terimakasih penulis-penulis buku yang menginspirasiku.. "

Aku pun berharap Pro U tak henti dalam mencetak buku-buku penuh manfaat dan motivasi baik untuk dunia dan akhirat. Buku-buku yang senantiasa membuat pembacanya menjadi lebih baik lagi keimanan dan kejiwaannya. Buku-buku yang renyah dinikmati, mudah dipahami, dan langsung dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin...


Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010

Kamis, 25 Februari 2010

Nikmati Hidup Ini ...

Suatu siang, di ruang kuliah sebuah universitas islam yang padat penghuni, tiba-tiba datanglah sesosok dosen yang membuat seluruh mahasiswa tercengang dengan kehadiran beliau. “ Kok pak ini sih?? Enggak salah pilih?? “ pertanyaan-pertanyaan itu saling bersautan antar mahasiswa.
Sang dosen pun membuka acara kuliahnya.

“ Selamat siang semua. Ya, pasti kalian semua kaget kenapa saya bisa disini. Padahal di jadwal bertuliskan bahwa dosen A yang akan mengajar kelas kalian, tapi karena beliau semester ini berhalangan mengajar, maka saya yang akan mengajar mata kuliah ini hingga 1 semester. “

HUUUUUUUUUUUUUU… suara riuh mahasiswa meramaikan kelas. Bagaimana tidak, dosen yang terkenal paling susah nilainya, paling susah ujiannya, dan dosen yang banyak dihindari para mahasiswa karena korba-korban mahasiswa yang mengulang dimata kuliahnya terhitung banyak sekali. Mengetahui keadaan mahasiswanya yang kecewa karena dosen yang dihindari malah ternyata mengajar mereka, sang bapak mencoba mencairkan suasana...

“ Saya tau Anda semua kecewa karena yang semula bermaksud masuk kelas ini agar tidak saya ajar, eee malah ternyata saya yang mengajar. Ya, beginilah hidup, tidak semua apa yang kita inginkan jadi kenyataan. Saya pun juga pernah mengalaminya. Dari dulu saya tidak berkeinginan menjadi dosen, tapi kenyataannya saya sudah 10 taun lebih bergulat di depan kelas bersama mahasiswa-mahasiswa saya. Mata kuliah ini pun sama sekali tidak saya sukai. Tapi, S2 nya saya malah ngambil bidang mata kuliah ini, yaitu psikometri. Makanya, kita jangan terlalu membenci atau menyukai sesuatu. Yang ada malah akan terjadi sebaliknya. Hidup ini dinikmati saja… “ dengan gaya bahasa dan penyampaian yang unik dan penuh humor, seluruh mata mahasiswa menatap lekat beliau. Kemana beliau bergerak, mata para mahasiswa pun mengikutinya. Semua mendengarkan dengan saksama.

Ada seorang mahasiswi yang bertanya, “ Pak, psikometri itu susah atau tidak? “

Sang dosen menghela nafas, “ Susah atau tidaknya tergantung kita menilainya. Kalau bagi yang bisa, ya dianggap mudah. Tapi bagi yang kesulitan memahami, pasti serasa sulit sekali. Contohnya, bagi yang bisa mengendarai sepeda motor,pasti cara mengendarainya akan mudah sekali. Tapi bagi adek kita yang masih TK, naik motor terlihat sulit. Karena, kita belum mencoba dan kita sudah beranggapan, itu sulit !! Coba kita ubah persepsi kita, kita detoksifikasi pikiran SULIT kita menjadi BISA. Walaupun pada awalnya kita akan tertatih-tatih, tapi dengan persepsi BISA, insya Allah akan menjadi bisa. Besar kecilnya masalah juga tergantung kita memandangnya. “ sang dosen berjalan ke belakang.

“ Contohnya, saat kita kuliah di lantai 4 dengan kelas hanya ada kipas angin, tak ber AC, dan semakin siang terasa panas sekali. Pasti kita akan merasa gerah, capek, lemes karena sudah naik turun tangga dan berada di kelas yang panas. Nah, disitu kita coba menikmati keadaan. Kita anggap saja naik turun tangga sebagai olahraga aerobic yang bisa membakar kalori dan menurunkan berat badan. Sedangkan untuk dosen yang naik tangga membawa laptop, kami anggap itu sebagai olahraga angkat beban. Ya lumayanlah daripada harus ke tempat fitness.

Terus ruangan yang panas, anggap saja itu sebagai sauna alami. Kita malah bisa memaksimalkan kelenjar keringat kita dan kita bisa menjadi lebih sehat karena toksin-toksin di dalam tubuh keluar. Nah, dengan persepsi seperti itu, kita akan lebih enjoy kuliahnya. Kita tidak usah terus-terusan “ nggresula “ ( mengeluh ), karena itulah keadaan yang sesungguhnya, mau gimana lagi. Yang mesti dilakukan adalah ‘ Enjoy aja.. ‘ “ Para mahasiswa takjub dan manggut-manggut dengan apa yang dikatakan sang dosen yang keren bin killer itu.

Kemudian ada lagi yang bertanya, “ Pak, soal pakaian bagaimana? Kan ada tu dosen yang ketat banget dengan peraturan pakaian. Ga boleh pakai ini, harus pakai ini. Kalau kelas bapak bagaimana? “

Sang dosen berjalan mendekati sang mahasiswi yang bertanya. “ Kalau saya sih, enggak masalah. Yang penting anda menjaga kehormatan. Saya disini tidak hanya sebagai seorang dosen tapi juga orangtua yang mempunyai anak perempuan. Saya hanya berpesan pakailah pakaian yang bisa menjaga kehormatan kalian. Pakaian yang ngepress kayak band C itu tidak baik untuk kesehatan. Apalagi kalau kalian sedang diare, yang kecepatan keluarnya cepat sekali. “
Hahahahaha… Semua mahasiswa tertawa.

“ Saya tau dosen yang anda maksud. Dosen tersebut memang tegas tentang syariat bahkan meja saya berjejeran dengan beliau. Beliau itu bermaksud menjaga kalian. Seharusnya kalian malah berterimakasih pada beliau, karena masih sempat untuk menjaga diri kalian dari segala godaan syetan yang terkutuk. Beliau perhatian dengan kalian. Beliau hanya ingin kalian semua tidak menjadi korban-korban kriminal dan seksual.. jadi, ya jagalah diri kalian dengan berpakaian yang semestinya.

Jarum jam terus berdetak, sang dosen mencari file mata kuliahnya.

“ Yak, sekarang kita mulai kuliah kita. Kita mulai dengan materi asumsi dasar pengukuran. Ada 7 asumsi, salah satunya adalah X = T + E. X adalah nilai yang nampak, T itu nilai asli/ sesungguhnya, E itu eror atau disebut juga deviasi. Asumsi ini sering berada pada kehidupan kita. Misalnya kita memiliki T sebagai orang baik, yaitu 100 lalu muncullah eror. Anggap saja itu cobaan dari Sang Kuasa. Nah, cobaan disitu bisa menjadi nilai positif dan negatif, itu tergantung kita. Kalau kita memaknai cobaan itu sebagai hikmah, maka nilai X kita akan bertambah dan nilai yang nampak pada kita adalah nilai yang lebih. Lebih dari yang sesungguhnya. Tapi jika kita memaknai cobaan itu sebagai musibah, nilai eror menjadi negatif, sehingga nilai T ( sesungguhnya ) kita akan berkurang. Dan itulah maksud Allah memberi ujian pada kita, apakah kita akan semakin menjadi baik dan beriman atau malas menjadi semakin berkurang kadar imannya. Bagaimana ada yang kurang jelas? “

Kuliah siang itu terasa sangat bermakna. Dosen yang berusaha dihindari malah ternyata malah yang mengajar di kelas itu dan dosen tersebut malah memberikan banyak hikmah / pesan-pesan kepada para mahasiswa. Bahkan penyampaian lebih menyenangkan daripada yang mereka pikirkan sebelumnya, yaitu galak, killer, dan susah dimengerti penjelasannya. Ya, itulah. Seperti firman Nya, dalam surat Al Baqarah ayat 216,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

Hidup ini hanya sekedar mampir ngombe, tidak lama. Jadi optimalkan segala yang dikaruniakanNya pada kita dengan semaksimal mungkin. Tak perlu banyak berkeluh kesah, karena manusia itu memang sudah diciptakan sebagai makhluk yang berkeluh kesah. Namun, itu bisa kita siasati dengan mengubah keluh kesah kita dengan mengubah persepsi negatif kita. Sehingga yang ada hanya enjoy, enjoy, dan enjoy… Jika masalah terus berdatangan satu per satu dalam waktu bersamaan, kita senyam-senyum aja. Kalau nggak bisa, ya senyam juga nggak papa..

Serahkan semua keputusan hidup kita hanya padaNya, lakukan usaha terbaik yang bisa kita lakukan, dan ingatlah kalau semua eror yang terjadi pada hidup kita adalah salah satu bentuk pengajaran langsung Nya pada kita. Jika kita hampir kehilangan arah, ingat kembali tujuan hidup kita. Sehingga, kita akan kembali ke jalan yang sebenarnya, insyAllah..

Intinya, nikmati aja hidup kita..
Sehingga kita bisa jadi manusia segala musim, mau musim ujian oke.. musim happy tetep kece.. hehehe…

Rabu, 07 Oktober 2009

Aku Nggak Seperti Kalian


Aku nggak seperti kalian…
Yang slalu ceria, tersenyum dan tertawa …
Yang bisa mempunyai banyak teman….
Yang bisa slalu membuat orang lain senang….

Aku nggak seperti kalian….
Yang memiliki banyak bakat.. potensi….
Yang memiliki smangat luar biasa….
Yang mampu melejitkan segala potensi yang ada…

Aku nggak seperti kalian…
Yang bisa memanajemen waktu dengan begitu rapinya…
Yang mampu mengefektifkan setiap detik waktu luang….
Yang mampu mengisi waktu dengan hal-hal luar biasa….

Aku nggak seperti kalian…
Yang mampu menjaga hijab dan izzah…
Yang mampu menjaga hati ini dari segala penyakit hati…
Yang mampu mengobati hati ini dengan namaNya kala sedang terluka…

Aku nggak seperti kalian,…
Yang senantiasa selalu bertaqarrub denganNya siang dan malam, bahkan di sepertiga malam…
Yang bisa menyertakan Dia dalam detak kehidupan…
Hmmmm,, aku emang nggak seperti kalian….
Kamu pun juga nggak seperti yang lainnya….
Kita semua punya pribadi masing-masing yang unik… yang aneh… yang lain daripada yang lain….
Dan, setiap apa yang kita miliki, merupakan anugerah terindah yang luar biasa dariNya…
Kita nggak akan sama…
Kita hidup untuk saling melengkapi…
Saling mengasihi…
Saling berbagi…
Saling membantu….
Saling silaturahim….
Saling memaafkan….
Saling berkorban dan menjamin….
Kita sering memimpikan diri kita seperti orang lain… sering berusaha mengejar kesempurnaan…
Punya ini,, itu,,,
Bisa ini, itu…
Kita nggak bisa itu, dikasih kelebihan ini….
Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing…
Dengan kekurangan, membuat kita berpikir untuk memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi…
Dengan kelebihan, membuat kita untuk memberi yang terbaik dan bersyukur atas apa yang ada…
Dengan apa yang kita miliki, kita bisa menggapai cita-cita mulia yang diimpikan seharusnya….

Aku emang nggak seperti kalian….
Terkadang kita sering membanding-bandingkan diri ini dengan yang lebih sempurna….
Hmmm, tak ada yang sempurna manusia itu kecuali para nabiyullah and rasulullah…
Kita hanya makhluk lemah tak berdaya… yang bisa dengan mudah dirayu syaithannirajim…
Betapa Dia sangat mencintai kita…
Dia menciptakan kita punya ke KHAS an sendiri-sendiri… bahkan orang kembar identik pun nggak sama kelebihan dan kekurangannya…
Pakar psikologi kepribadian juga nggak akan menemukan semua jenis tipe kepribadian manusia secara detail…
Bukankah Allah menciptakan kita untuk beribadah kepadaNya???
Saat diri mulai tak puas dengan apa yang dimiliki, lebih baik kita kembali kepada tujuan hidup kita…
Sering sekali diri ini berusaha untuk mencari kesempurnaan….
Tapi, Allah lah yang Maha Sempurna…
Dan kita, manusia adalah sebaik-baik ciptaanNya dari makhluk lainnya…
Dan setiap dari kita adalah PEMENANG….

Ayo kawan….
BERSEMANGATLAH !!!!
Dunia ini menunggu kita untuk menorehkan prestasi Ilahi yang hasilnya akan kita petik di akhirat kelak….
dan kita,mesti bermanfaat buat irang-orang di sekitar kita...
karena sebaik-baik manusia adalah paling bermanfaat buat orang lain,,,,

Sungguh, aku nggak seperti kalian…
Jadi, dengan segala kekurangan dan kelebihan kita, JANGANLAH BERPUTUS ASA.. !!!
KITA PASTI BISA…!!!
Sungguh, tak ada daya dan upaya selain kekuatan dariNya…
Dengan mengharap ridho dan ampunan Ilahi,
Kita perbaiki diri ini, lejitkan potensi yang ada, torehkan prestasi kita demi Dien kita yang mulia…
Kita nggak boleh kalah dengan para kaum2 nonIslam yang mampu melejitkan potensi mereka walaupun raga tak lengkap… batinmu tak tenang…

Kita yang mempunyai nikmat Dienul Islam, seharusnya BISA LEBIH DARI MEREKA….
Kita NGGAK SAMA seperti mereka… kita BISA LEBIH BAIK dari mereka…

Senin, 21 September 2009

Artikel Bulif...

Indahnya Memaafkan…

Datangnya hari nan fitri ini identik dengan saling bermaafan, berbagai ucapan dirangkai untuk mengucapkan kata “maaf”. Walaupun sebenarnya minta maaf bisa dilakukan kapan saja ketika kita melakukan kesalahan. Berjabat tangan juga menjadi simbol peleburan kesalahan kita dengan orang yang kita salami. Namun, kita perlu bertanya, apakah kita benar-benar sudah memaafkan seseorang yang telah meminta maaf kepada kita? Ataukah kata, “ Sama-sama, aku juga minta maaf” hanya sebatas di lisan saja? Apakah hati kita telah murni memaafkan kesalahan mereka dengan ikhlas?
“ Jika kamu menyatakan suatu kebaikan menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. Annisa:149)
Memaafkan memang bukan perkara yang mudah, apalagi jika kesalahan orang itu sampai membuat kita kehilangan kepercayaan pada orang itu hingga kita menjadi sangat sakit hati. Kata para sufi, memaafkan harus dilatih terus menerus. Sifat pemaaf tumbuh karena kedewasaan ruhani. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan diantara dua kekuatan: pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghiasi akhlak para nabi dan orang-orang sholeh. Ruhani mereka telah dipenuhi sifat Allah yang Maha Pengampun.
Ada sebuah kisah menarik. Alkisah Ali bin Husein r.a sedang berwudhu, budaknya menjatuhkan wadah air ke atas kepalanya. Takut kalau sudah menyakiti tuannya, budak itu lantas menggumamkan ayat Al Qur’an surah Ali Imran ayat 134, “ … Orang-orang yang mengendalikan amarahnya… “ Kemudian Ali berkata, “ Aku tahan amarahku. “
Budak itu melanjutkan, “ … Dan orang-orang yang memaafkan orang lain…” Lantas, Ali berkata, “ Aku maafkan kamu. “
Budak itu menyelesaikan ayat itu, “ …Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. “ Ali pun berkata, “ Aku merdekakan kamu.” Subhanallah. Betapa ajaibnya memaafkan itu, sampai dia mau memerdekakan seorang budak.
Ayat yang dibacakan tadi menuntunkan bahwa menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik harus dilakukan sekaligus. Allah menjelaskan ketiganya sebagai karakteristik orang taqwa. Menahan marah tanpa memaafkan hanya akan menumpuk penyakit. Selain itu, memaafkan tanpa berbuat baik hanya menyemarakkan ritus sosial.
Bagaimana jika kita masih menahan rasa sakit hati yang berlarut-larut karena tidak mau memaafkan orang lain ? Apa yang akan terjadi? Berikut ini kami akan menjelaskan dampaknya dari berbagai sisi.
• Bagi kesehatan
Dalam sebuah buku “ Forgive for God “ (Maafkanlah demi kebaikan ), Dr. Frederic Luskin, menjelaskan bahwa kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tidak berkesudahan baru terlihat ketika kita menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Apabila kita terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, kita tidak menyadari seperti apa kondisi normal yang seharusnya. Hal tersebut menyebabkan aliran adrenalin yang tanpa terasa membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih hingga memperburuk keadaan.
Kemarahan dapat meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, sehingga memperbesar kemungkinan terserang serangan jantung. Semakin kita menumpuk kemarahan dalam hati, semakin rentan pula akan bahaya stroke, serangan jantung, susah tidur, penyakit perut, dan sakit kepala menahun.
• Bagi kondisi psikologis
Kalau kemarahan itu tanpa sadar sudah menggerogoti kondisi fisik kita, berarti kita terserang psikosomatis. Yaitu, penyakit yang timbul akibat beban psikologis yang terpendam dalam waktu yang cukup panjang. Sehingga, kita jika psikis kita terganggu, secara otomatis kinerja tubuh kita menjadi ikut terganggu dan kurang optimal bekerjanya.
Sebenarnya melapangkan kemarahan tergantung juga pada kepribadian seseorang. Jika orang tersebut termasuk orang yang matang kepribadiaannya, maka cara berfikirnya juga logis. Dia cenderung melupakan kesalahan orang lain dan biasanya mudah memberi maaf.
Sementara itu, ada pula orang yang berfikir secara emosional. Biasanya dia membutuhkan waktu agak lama dalam memberi maaf, cenderung ragu-ragu, dan tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat.
• Bagi kondisi sosial
Soal maaf-memaafkan, kita tidak bisa melihat lebih dahulu siapa orang yang bakal kita maafkan. Karena kita tidak tahu siapa yang kita perlukan untuk menemani kita hidup di dunia ini, Kalau kita menjadi orang yang suka marah atau sering mengungkit-ungkit kesalahan orang lain pada kita, teman-teman kita secara nggak langsung akan menjauh. Semakin kita selektif melapangkan hati dan pikiran kita, makin sulit kita mendapatkan kehidupan yang menyenangkan. Kadang pertolongan itu bukan datang dari orang yang kita inginkan, tapi justru datang dari orang yang berhati tulus.
Itu tadi merupakan akibat dari menunda meamaafkan orang lain. Menurut penelitian yang dilakukan ilmuwan Amerika bahwa seseorang akan memiliki kesehatan baik jiwa maupun raga jika mampu memaafkan. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka.
Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan yang baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran, dan percaya diri. Semuanya diperoleh dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat, dan stress.
Secara psikologis, orang yang mudah memaafkan akan awet muda sepanjang waktu, karena otot mukanya terlihat relaks, sering tersenyum, dan mukanya terlihat segar.
Sang teladan kita, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalam pun juga selalu melapangkan hatinya untuk ikhlas memaafkan orang lain seperti dalam hadits nya. Beliau menjelaskan maksud kenapa Allah Subhana wa ta’ala menyeru manusia untuk memiliki sifat pemaaf, “ Barangsiapa melakukan tiga hal berikut ini, akan dihisab dengan mudah dan akan masuk surga dengan rahmatNya. Pertama, memberi kepada orang yang bakhil; kedua, silaturahim dengan orang yang memutuskannya; ketiga, memberi maaf kepada orang yang zhalim. “ (HR. Ath-Thabrani)
Subhanallah… betapa nikmatnya jika kita bisa saling memaafkan, tak sekedar bermaaf-maafan. Semoga hati kita senantiasa diberi kelapangan oleh Sang Penerima Maaf agar hati ini selalu mewarnai hidup dengan senyum dan rasa memaafkan.
From : Muslimah’s Magazine…

Sabtu, 15 Agustus 2009

Story,,,

Jogokariyan ...I’m in love

“ Nda...ayo bangun !!! Udah Subuh lho !!! Ayo bangun....Sholat Subuh dulu!!! “ ucap Chalin sambil mencium dahi suaminya yang sedang tertidur dengan lelapnya.
“ Loh kok ada bidadari disini. Jangan-jangan aku masih mimpi ni....! “
“ Mas...jangan ngeledek tho!!! Ayo buruan bangun...! “
“ Iya dindaku sayang....” Izul berucap manja.
Merekapun lalu beranjak sholat Subuh berjamaah. Setelah itu, mereka bertilawah bersama hingga sang fajar menampakkan wajahnya yang cerah.
“ Mas...kita beres-beres yuk!! Ade liat lemarinya pada berantakan. “ chalin mendedkati Izul sambil membawakan secangkir coklat hangat dan beberapa roti bolu kukus yang kemarin dia buat. “ M....kliatannya sih iya!! Kalo gitu sekarang kita kerja bakti ngerapiin rumah kita tersyang. He....” canda Izul semberi menyeruput minuman yang dibawa Chalin tadi.
Seusai makan malam, Chalin mengambil sebuah buku mungil berwarna biru berhiaskan bintang-bintang yang keliatannya udah agak kumal.
“ Nda tau nggak...tadi ade nemu buku diary waktu SMA dulu. “ Chalin memperlihatkan buku itu pada Izul yang berada disampingnya.
“ Hah....Coba mas liat!!! “
“ Iya deh...tapi jangan diketawain lho...! “
>>0<<

Senin, 4 Juli 2005
Diary, aku lagi seneng ni... coz ulangan matematikQ dapet nilai 85, tertinggi lagi di kelas. Alhamdulillah ...usahaQ nggak sia-sia. Aku nggak nyangka bisa ngalahi Si Putri yang sohib deketnya matematika. Huh...pokoknya aku nggak boleh kalah. Aku kudu tetep berusaha biar nilaiku makin nambah. Tapi nggak cuma matematik thok, bidang lainnya juga terutama Sejarah. Dari SD sampe SMA pelajaran yang satu itu nggak pernah bisa nyantol di memoriku.
Masya Allah....nggak terasa semester 1 di kelas XII,udah hampir selesai. Kurang 3 minggu lagi Rasanya cepet..banget. Aku harus makin giat ni biar bisa lulus dengan nilai cukup plus bisa masuk Jurusan Sastra Bahasa di UGM. Tapi, bahasa apa ya...? Wah..malah ngayal. Liat besok aja deh!
Kamis, 7 Juli 2005
Huh...sebel...sebel...!!!! Kenapa selalu aja ada cowok yang nggak sopan sama cewek khususnya cewek berjilabab. Kita kan udah nutup semua rapat-rapat e...dasar cowok nggak sopan!!! Mereka santai aja siul-siul menggoda plus ditambah salam yang aneh. Alhamdulillah .... aku nggak sering di gituin tapi Meisya sohibku sekelas ampir tiap hari selalu digodain waktu lewat warung Pak Sukro. Emang sih dia manis banget. Udah manis, kuning, pinter lagi. Dia bingung kudu gimana. Pengennya sih nggak lewat warung itu tapi mau nggak mau hanya jalan itu yang harus dilewati menuju rumahnya. Moga-moga Allah memberi kekuatan dan perlindungan padanya. Amin... Ry....aku maem dulu ya.....da.....
Selasa, 2 Agustus 2005
Waktu makan malam tadi, ummi bilang kalo besok liburan semester kalo nilai ku rata-rata diatas 7,5 semua bidang studi, aku bakal dibeliin HP. Hi....dari dulu aku pengen banget punya HP tapi kata abi and ummi, belum waktunya. Mereka takut kalo gara-gara HP aku jadi lupa waktu. Dan di zaman kaya gini, HP bisa jadi sarana yang paling gampang untuk ‘berteman‘. Coz dulu Dyah, tetangga sebelah pernah jadi korban seorang cowok. Awalnya sih ngajak kenalan tapi lama-lama ngajak yang ‘lebih dekat’ dan berakhir dengan.... Ah..ngeri deh!! Pokoknya kalo aku punya HP, aku harus pinter jaga diri dan ngegunain itu HP dengan manfaat yang baik.
Oh ya, tanggal 28 Agustus 2005 kita sekeluarga juga mau berencana pergi ke Jogja kota Budaya untuk silaturahmi ke tempat eyang Kung. Kira-kira 2 mingguan lebih. Keluarga abi kebanyakan disana. Maklum...abi khan putra orang Jogja tapi besar di Jakarta. Terakhir aku kesana waktu kelas 6 SD. Ya.. masih imu-imut gitu dech. So, belum ngerti sekitar sana. Aku jadi pengen cepet-cepet kesana....Hm... kira-kira kaya apa ya keadaan disana ? Trus HP baruku kaya gimana juga bentuknya?? Ah...bobo!!!
Senin, 7 Agustus 2005
Tadi udah mulai ulangan semester 1. Alhamdulillah..bisa ngerjain semua but ada yang blank juga. He.... Besok jadwalnya B.Jawa plus Matematik. Wah...dua-duanya aku seneng. Temen-temen pernah bingung, kenapa sekolah kita yang ada di Jakarta malah ada pelajaran bahasa Jawa. Sedangkan bahasa Betawi nggak. Kata Guru bahasa Jawa, bahasa Jawa itu bahasa yang halus daripada Betawi. Lagipula bahasa Betawi mudah dipelajari dari lingkungan sekitar. Nah, kalo bahasa Jawa kan jarang yang make kalo di Jakarta.
Alhamdulillah...sejak kecil, terkadang abi sering ngajarin aku basa Jawa terutama Krama alus and tulisan Jawa. ( Aku hafal lho.... ) Jadi...walaupun tinggal di Jakarta, aku bisa agak lancar berbahasa Jawa. Da dulu ya... kula arep sinau basa jawi ndhisik1) he....
Sabtu, 13 Agustus 2005
Alhamdulillah.... hari ini terakhir ulangan semester. Moga-moga aja aku nggak remidi. Eh iya, aku ada acara ni di masjid. Acaranya ba’da Isya’. Aku mo nelpon Arya dulu ya. Biasa ngingetin dia. Aku khan reminder setianya dia. Ntar aku lanjutin lagi.
Masya Allah...aku tadi dicritain Arya, katanya kemaren Toni nitipin sepucuk surat untuk dikasihin ke aku. Wah...apa ya??? Aku jadi penasaran. Aduh...kok pikiranku jadi melayang kaya gini sih!!! Palingan juga proposal dana atau surat lamaran kerja. He...ngawur banget!!!
Ahad, 14 Aguatus 2005
Ya Allah...kuatkanlah hati hamba.... aku jelas belum siap. Dia emang anak baik,sholeh,maniz,pinter, idola sekolahnya lagi but....yang jelas aku belum bisa. Moga-moga hatiku nggak kotor lagi gara-gara berita ini. Amin....
Kemarin waktu pulang pengajian, dia nyerahin surat itu. Sampulnya apik. Warnanya biru bintang-bintang kaya kamu Ry. Bagus banget....sampe kamar, aku baca tu surat. Masya Allah...ternyata...surat itu....surat lamaran tapi bukan lamaran kerja melainkan....lamaran nikah. Gubrak....Toni gitu loh!!! Nggak mungkin banget. Dia tu terlalu baik untukku, bahkan ku anggap dia ampir perfect. Ya...kurang 5% lah! Sedang aku...aku ry... Ngaji nggak begitu lancar, masih suka maen, ikut pengajian sering ngobrol, hafalan juz ‘ama banyak yang lupa. Wah...pokoknya jauh deh dari dia. dan parahnya lagi kalo aku nerima, setelah pengumuman kelulusan, dia segera menyerbu rumahku. Gimana ni??? Mau nolak rugi...mau nerima nggak sehati...!!! Shalat Istikharah aja ah....
Ahad, 21 Agustus 2005
Maafin aku ya Toni... aku nggak bermaksud menyakitimu. Aku nggak pengen hati ini goyah karena masalah cinta. Cinta emang fitrah bagi setiap insan tapi bukan sekarang waktunya. Afwan jiddan Ton... Beberapa hari yang lalu, aku ngirim surat balasan. Isinya, aku belum bisa nerima dia. Aku cerita sama ummi masalah ini. Kata ummi, beliau merestui aku sama Toni and nggak papa kalo pengen nikah setelah SMA tapi inget, semua butuh persiapan dan kesiapan. Nha...kesiapan itu yang belum aku punya. Ton...sekali lagi afwan...semoga kamu dapet yang lebih baik dari aku.Kok aku jadi nangis gini sih...??? Jangan sedih....ayo senyum....!!!!
Oh ya, minggu depan kelas meeting. Malam ini aku mau nyiapin perlengkapan untuk lomba masak keakhwatan besok Rabu. Alhamdulillah...aku cuma remidi SEJARAH. Huh...sudah ku duga!! Ya... ga papa lah. Emang dari dulu SEJARAH nggak pernah bisa akrab sama aku. Minggu depan aku ke Jogja...........
Sabtu, 27 Agustus 2005
Hore...Alhamdulillah....nilai raporku diatas 75 semua bahkan kebanyakan diatas 80. Ya Allah...terimakasih...aku langsung sujud syukur setelah ngeliat selembar kertas nilai yang tadi barusan diambil ummi dari sekolah. Ummi juga ngucapin selamat ke aku. Ummi ikut seneng...dan kata ummi ntar malem hadiah yang dulu dijanjikan telah menungguku....Asyik.... Besok sore aku berangkat ke Jogja naek kereta. Kalo gitu, mending sekarang aku nyiapin baju-baju aja...!!
Selasa, 30 Agustus 2005
Jogja I’m coming.....Aku udah ada di rumah eyang Kung....! Hawanya sejuk... eyang Kung sekarang nggak tinggal lagi di Sewon tapi pindah ke sebuah kampung namanya Jogokariyan. Eyang ikut Pak Dhe Yono soalnya di desa nggak ada temennya.Maklum..udah sepuh. Di Jogokariyan deket pondok namanya Pondok Krapyak. Selain itu, ada Plengkung Gading juga, Alun-alun Gajah...pokoknya asyik dech!! He.... di sini aku dikenalim mbak Dyah sama temen-temen akhwat pengurus remaja masjid disini. Subhanlallah... aku kagum sama remaja Islamnya. Mereka kompak- kompak. Oh ya, aku tadi kenalan sama Salma, Salsa, Tya, Nilna, Deta, Sefi, Indah, Tazkia, Chatun,and Delia. Trus, baru sehari disini, udah diajakin ikut baksos besok Kamis. Hi.....senengnya.....
Kamis, 1 September2005
Hari ini Isra’ Mi’raj Nabi. Hm...Subhanallah. Hari ini pula aku pergi bareng RMJ ke Sidoarum, Godean. Aku jadi trenyuh liat masyarakat disana. Seharusnya aku lebih bersyukur dapet rizki yang cukup. Kebanyakan dari mereka pada kurang mampu tapi Islamnya lumayan kuat lho... Waktu diperjalanan, aku bisa sepet akrab sama Salma, Salsa, Tya, apalagi Chatun. Dia lucu banget.... Tiba-tiba mobil yang kita pake macet. Cemas gitu. Trus, ikhwan yang tadi nyopir mbenerin dulu. Kita semua keluar. Waktu itu, aku lagi duduk-duduk di deket mobil, ikhwan tadi –namanya Izul- minta tolong diambilin air putih. Aku ambilin. Nah, pas aku ngasih ke dia nggak sengaja mata kita berpandangan. Agak lama lagi. Masya Allah... aku jadi ngrasa gimana...gitu. Dia manis banget... Astagfirullah....pandangan itu...Gara-gara pandangan itu. Gimana ni ??? Aku nggak boleh ngrasain hal ini.... GA BOLEH !!!!!! Pokoknya FORGET IT....DON’T REMEMBER.....!!!!!!!!!!
Selasa, 6 September 2005
Masya Allah....perutku sakit banget. Biasa deh...langganan bulanan cewek. He.... Eh iya, tadi ada rapat di rumah eyang. Mbahas tentang rencana keredaksian Bulif yang insya Allah akan terbit besok pas 1 Syawal. Wah..seneng ni!!!! Tapi.... aku malu coz ada Akh. Izul. Bener-bener malu!! Yang aku herankan kok aku jadi salting banget kalo ada dia. Padahal kita jarang ngobrol malah belum pernah. Paling cuman pas mobil macet. He.... Aku dicritain Chatun, 2,5 bulan lagi dia mau kerja di Jakarta, katanya sih udah dipanggil salah satu perusahaan otomotif disana. So, dia pengen tau tanya seluk-beluk Jakarta. Jangan-jangan perusahaan deket sekolahku itu. Ya ampun.... kita bakal 1 kota. Aduh...Ya Allah...Help me!! Moga-moga ini hanya rasa kagum aja bukan lebih..... aku takut untuk memberikan rasa lebih padanya. Aku takut kalo mengotori hati ini. Moga-moga aja ini segera berlalu...
Rabu, 14 September 2005
Ry...akh. Izul sms aku. Dia tanya informasi tentang Jakarta. Transportnya, tempat tinggal deket daerah kerjanya, trus sama pergaulan disekitar sana. Dan ternyata Ry...dugaanku bener!! Dia kerja di perusahaan deket sekolahku. Wadaw.....bisa sering ketemu donk!!! Ry...aku kok jadi makin aneh aja ni...LUPAIN CHALIN....LUPAIN.....!!!!!! Ry, hal yang ku takutkan terjadi juga. Udah beberapa kali ini aku dapet SMS and nomor nyasar yang selalu aja ngajak kenalan. Dan kesemuanya itu cowok yang ngelakuin. Tadi waktu akh Izul sms, ku kira dia anak-anak cowok yang kurang kerjaan ternyata.....akh. Izul tho!!! He.....
Jum’at, 16 September 2005
Besok sore jam 6 aku kudu pulang rasanya sedih....pisah sama temen-temen Jogokariyan. Mereka baik banget. Pengennya kalo ada libur lama, aku pengen ke Jogja lagi terutama Jogokariyan. Disamping masjidnya keren, warga sekitar nggak kalah keren. Tiap waktu sholat, shaf hampir penuh minim 2 shaf. Apalagi Subuh sama Maghrib, full dech malah ada yang di lantai 2. Keren banget.... itu bikin aku makin betah sholat jamaah disana. Remajanya juga pada aktif. Beda sama masjid di deket rumah. Aku nggak pengen pulang.....pengen disini....Tapi 4 bulan lagi aku udah ujian. Huh...... Hik.....aku sedih ni ry...Banyak kenangan plus pengalaman disini. Semuanya indah.... Apalagi tanpa kusadari aku mulai menyadari perasaan ini. Aku bingung....aku harus gimana untuk mendem perasaan ini....moga-moga dengan kepulanganku ke Jakarta dan ketemu sama buku-buku lagi, aku jadi bisa ngelupain perasaan sama.... Ah..udah deh!!! Lupain....
Sabtu, 17 September 2005
Hik...hik....kemarin waktu perpisahan ma anak-anak RMJ akhwat ba’da Maghrib, aku ngrasa sedih banget. Pasti aku bakal kangen sama keceriaan mereka. 2 minggu aku mengenal mereka. Tapi ada rasa yang kuat yang mengikat diantara kita. Sesampainya aku di Jakarta, aku pergi ke counter HP untuk beli kartu perdana baru. Aku sengaja ganti kartu biar nggak ada cowok yang jahil lagi plus aku jadi nggak bisa berkomunikasi lagi dengan akh Izul. Aku takut.....terjadi yang lebih jauh. Aku juga nggak mau menyakiti orang lain lagi kaya Akh Toni dulu. Tapi...aku tetep berniat kalo aku ada waktu libur, aku mau kesana silaturahmi tempat mereka satu-satu. Sekalian ngejenguk eyang Kung. Bener ya kata pepatah Jawa “ Witing tresna jalaran saka kulina 2) “ Jogokariyan Bye...bye.... But I will come back....
>>0<<
Rabu, 08 Februari 2006
Aku udah selesai Unas. Tinggal nunggu pengumuman akhir Februari. Sejak November 05 pertengahan dia ada di Jakarta. Kita sering...banget ketemu di jalan waktu berangkat sekolah..... Kalo aku pulang sore abis les juga kadang ketemu. Pernah juga kita 1 bis bareng. Untungnya sih belum pernah jejer walaupun dulu nyaris pernah 1 bangku. Tapi....dia langsung berdiri mempersilahkan seorang ibu hamil duduk. Subhanallah...mulia banget ya! Aku udah nyoba berbagai cara menghindar bahkan mencoba untuk ngebuang perasaan ini jauh-jauh, but sama aja!! Aku sering liat dia dideketin mbak-mbak yang cukup manis dan berjilbab. Dan kliatannya dia kenal deket sama akh Izul. Meisya pernah cerita, waktu dia pulang, dia ngeliat akh Izul boncengan sama tu cewek. Perih...banget. pulang sekolah aku langsung nangis. Huh...cengeng banget ya... Ummi yang tau masalah itu, mencoba ngehibur diriku agar senatiasa menguatkan hati ini. Katanya, buat apa hal yang nggak bermanfaat kaya gitu harus ditangisi. Terkadang malah kita nggak nangis karena dosa-dosa kita sama Allah. Huh... Menyedihkan. Sejak saat itu, aku jadi nggak peduli lagi sama apapun yang dilakukan akh Izul. Aku nggak mau sedih lagi karena perasaan yang hampir membunuhku.
Besok Sabtu ba’da Isya’, Akh. Izul ngasih kabar lewat SMS, insya Allah mau ke rumah aku. Wah...besok Sabtu??? Kira-kira ada apa ya? Ah..udah deeh!!! Jangan berharap yang macem-macem. Bisa jadi dia dateng sambil mbawa undangan pernikahan atau mbawa istrinya untuk dikenalin ke aku. NGGAK BOLEH SEDIH !!! Oh ya, insya Allah Senin besok aku mo ke Jogja lagi silaturahim tempat eyang Kung and temen-temen. Aku ke sana ma Arya plus Meisya. Dug...dug... Aku kangen buanget.....sama mereka!!! Aku kangen keceriaan mereka....Tu kan sedih lagi...!!! Dasar aku tu anak cengeng!!!!!! Tapi...aku bener-bener kangen!!!
Kamis, 16 Februari
Ry...Kemaren Sabtu...ternyata...hal yang ku takutkan terjadi juga. Akh Izul dateng sambil membawa sepucuk surat dan dia....dia.....dia bilang sama ummi and abi...untuk berniat...menikahi aku. SUBHANALLAH...betapa senengnya hati ini!!!! Aku dikhitbah sama Akh. Izul Ry..... Seneng .banget ni..... Nggak bisa diungkapin dengan kata-kata. Insya Allah 1,5 bulan lagi kita nikah. Ummi and Abi merestui coz mereka percaya aku udah dewasa dalam nentuin pilihan terutama pilihan pasangan hidup. He.... lagipula ummi kan tau gimana perjuangan perasaanku selama ini yang terombang-ambing bak ombak di lautan. He...kaya judul sinetron!! Waktu itu ummi dan abi minta waktu 1 minggu untuk mutusin hal penting itu. Tiap malem aku shalat Istikharah minta petunjuk pada Allah. Sampe ngimpi segala lho.he.... Padahal, aku jarang ngimpiin seorang ikhwan. Palingan juga abi. He.... Karena kita belum nikah dan baru masa ta’aruf, kita harus tetep jaga hati and pandangan kalo ketemu bukan malah kaya orang pacaran. Kita khan belum muhrim. Aku seneng.... Alhamdulillah... Kutunggu 1,5 bulan lagi...akan ku perbaiki diri ini menjadi lebih baik lagi agar kelak aku bisa jadi istri yang sholehah. Amin..... Terimakasih ya Allah.....
>>0<<
“ Subhanallah... ga nyangka ya de kita bisa bersatu dalam ikatan yang suci. Mas juga ga nyangka bakal ketemu akhwat kaya ade. Akhwat yang aneh. He... “ goda Izul. Cubitan manja Chalin bertubi-tubi menimpa dirinya. “ Hih...awas ya!!! “
“ Ini semua rahasia Allah yang sama sekali nggak ade duga. Ade yakin Allah akan memberi yang terbaik untuk hambaNya yang senantiasa juga memberikan yang terbaik untukNya. “
“ Ngomong-ngomong di diary itu ada yang cemburu deh sama mas... soalnya boncengan sama ade kandung sendiri. Sapa ya de...??? Ampe nangis segala lagi!!! Kasihan ya de......He..”
“ Mas....jangan ngodain lagi tho!!! Tak cubit lho!!!! “
Angin lembut yang menyelimuti disertai hiasan kerlipan bintang membawa mereka hanyut dalam nuansa indah malam itu. Keceriaan mereka membuat mata saling berpandangan penuh kasih dan juga saling memadu kasih dalam keindahan malam. Huh.....

Catatan :
1) Aku akan belajar bahasa Jawa dulu
2) Kita akrab karena sering bertemu

Senin, 03 Agustus 2009

Review Saat Cinta Datang,,,

Judul Buku : Saat Cinta Datang Belum pada Waktunya
Pengarang : Ari Pusparini
Penerbit : Pro-U Media
Tahun Terbit : 2009
Halaman : 137 halaman
Ukuran Buku : 12 x 20 cm
“ Teka – Teki Cinta “

Cinta. Satu kata yang tak akan habis terurai untuk diceritakan dan tak akan lekang dibicarakan diberbagai kalangan. Cinta memang penuh misteri. Berjuta khayal hadir begitu perasaan berjubah cinta itu melekat di hati. Semua hal tampak begitu indah karena cinta. Cinta dapat menjadi sumber kekuatan dan peneguh hati, walau tak jarang cinta malah menjadi penghancur raga dan nurani. Ada sepasang suami istri yang katanya masih saling cinta, tapi mereka memutuskan bercerai. Padahal katanya, cinta dapat menyatukan segala perbedaan yang ada. Ya begitulah, cinta memang sebuah teka-teki kehidupan. Didalamnya mengandung banyak rahasia yang telah ditulis olehNya dan hanya Dia lah yang paling mengetahui kemana cinta akan bersandar ke pelabuhan terakhir.
Dari mana awal timbulnya cinta itu sebenarnya? Dari pandangan pertama? Dari seringnya bertemu? Atau dari secercah rasa kagum? Saat cinta itu datang, tak jarang kita malah menjadi budak cinta, merengek-rengek, termehek-mehek demi mendapatkan cinta. Dan saat cinta itu pergi, seakan hidup ini tak ada artinya lagi. Cinta memang datang dan pergi tanpa permisi terlebih dahulu. Lantas, bagaimana jika cinta datang bukan pada saat yang tepat? Disaat hati kita belum siap untuk memaknai hakikat cinta itu sendiri. Buku “Saat Cinta Datang Belum pada Waktunya” akan memberi jawaban mengenai hal tersebut.
Melalui goresan bertutur kata yang indah dan mengalir, sang penulis, Ari Pusparini, tak semata mengumbar pesona kilau cinta, tetapi juga memberi penjelasan bagaimana agar kita tak larut dalam janji manis yang diutarakan atas nama cinta, sehingga tak terjerumus dalam cinta palsu. Sebab, cinta yang benar merupakan cinta yang dapat mengangkat derajat manusia, yaitu ketika cinta dilandasi iman. Ia dijalani dalam rangka membimbing dan membentengi manusia dari hal-hal buruk (Hal.48)
Berbagai kisah nyata terkait jeratan cinta ini terpapar pula dalam buku ini. Penulis yang berprofesi sebagai pendidik di SDIT favorit di Yogyakarta ini ikut menambahkan tips-tips menghadapi cinta dari berbagai sumber, baik dari yang belum menikah maupun yang sudah punya anak. Walaupun dikemas dengan desain yang sederhana, tak mengurangi nilai plus dari buku ini. Buku yang akan memberikan banyak pelajaran kepada kita agar lebih cermat dan cerdik dalam menghadapi teka-teki cinta duniawi menuju gerbang cinta yang hakiki, cinta Ilahi.

Jumat, 29 Mei 2009

Review Buku,,,


Judul : Republik Genthonesia
Penulis : Mbah Dipo
Penerbit : Pro You
Tebal : 254 halaman
Ukuran : 14 x 20 cm
Cetakan : 1,Januari 2009

“ Sisi Kelam-Terang Kehidupan Kita“

Era globalisasi ini, tiap sisi-sisi kehidupan rakyat Indonesia telah banyak terkontaminasi oleh budaya barat. Dan para rakyat pun secara tidak langsung menjadi ikut-ikutan. Rakyat berusaha keras untuk bisa mengadaptasikan diri dalam kehidupan sehari-harinya dengan budaya tersebut agar tak menjadi ketinggalan zaman. Bolehlah kita mencontoh budaya negara-negara yang maju, namun kita harus pintar-pintar memilah asupan dari luar tersebut. Apabila budaya tersebut sesuai dengan syariat, why not? Tetapi kalau melenceng, budaya itu tidak perlu dimasukkan dalam keseharian kita.
Ternyata dari hari ke hari, westernisasi semakin menjalar hampir pada tiap lini kehidupan. Budaya tersebut merasuk perlahan-lahan kedalam keseharian para rakyat Indonesia yang telah menjelma menjadi Londo Gosong. Adalah orang Indonesia yang bertingkah laku dan menginginkan kehidupan kesehariannya sama seperti orang Londo. Dan buku “ Republik Genthonesia ” ini akan menguak berbagai fenomena Londo Gosong yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita saat ini.
Penulisnya, Mbah Dipo, yang bernama asli dr. Insan Agung Nugroho ini, menampilkan sisi kelam hingga sisi terang fenomena Londo Gosong tersebut. Semua terungkap dengan sangat lugas. Dokter umum yang bekerja di Balai Kesehatan Masyarakat Dwi Ayu Rorotan, Cilincing dan sudah dikaruniai 4 orang anak ini, memang telah banyak makan garam. Berbagai pengalaman pahit-manis dan kisah-kisah nyata yang nyeleneh hingga membuat trenyuh telah dialaminya. Dan penulis menceritakan kisah-kisah tersebut dalam buku ini dengan begitu komunikatif dan ceplas-ceplos, apa adanya. Bahasa penyampaiannya pun ringan dan dihiasi dengan guyonan dari berbagai daerah. Maklum saja, jika dalam buku ini banyak istilah-istilah bahasa Jawa, sebab Mbah Dipo merupakan orang asli Karanganyar, yaitu salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Namun bagi pembaca dari luar daerah lainnya, tak perlu khawatir, karena setiap istilah bahasa daerah yang dituliskan, akan ada artinya di bagian bawah.
Buku ini tak melulu membahas tentang pergeseran budaya yang terjadi, namun juga membahas tentang politik sampai obat energik, reformasi sampai lokalisasi, serta membicarakan puasa hingga bagaimana mengurus negara. Pokoknya lengkap. Wacana kita tentang dunia luar pun akan menjadi semakin terbuka. Ternyata di luar sana ada ustad yang berdoa secara paketan. Pada acara apapun, baik acara syukuran maupun layatan, doa nya tetap sama. Ada pula cerita teladan dari tukang becak, dan masih banyak lagi cerita-cerita penuh makna yang dibahas dalam buku ini.
Membaca buku ini membuat kita menjadi terhanyut dalam tiap pembahasannya. Tak terkesan monoton, apalagi terkesan menggurui. Walaupun penulis menyisipkan beberapa ayat Al Qur’an dan hadis, namun itu semua dikemas dengan sangat apik. Sehingga membuat orang awam menjadi lebih mudah memahami setiap hikmah yang disampaikan mbah Dipo.
Bagi Anda yang sedang sedih, pusing atau tak bersemangat karena sedang menghadapi berbagai permasalahan yang mengusik kehidupan Anda, buku ini sangat pas sekali untuk dinikmati. Susunan kalimatnya yang mengalir dan kocak, membuat pikiran kita menjadi fresh kembali. Buku ini juga diharapkan dapat menjadi secercah cahaya bagi pambaca yang sedang meredup kilaunya. Dan semoga kandungan dari buku ini pun dapat menggerakkan hati pembaca untuk menjadi manusia yang semakin baik dari hari ke hari.