Senin, 21 September 2009

Artikel Bulif...

Indahnya Memaafkan…

Datangnya hari nan fitri ini identik dengan saling bermaafan, berbagai ucapan dirangkai untuk mengucapkan kata “maaf”. Walaupun sebenarnya minta maaf bisa dilakukan kapan saja ketika kita melakukan kesalahan. Berjabat tangan juga menjadi simbol peleburan kesalahan kita dengan orang yang kita salami. Namun, kita perlu bertanya, apakah kita benar-benar sudah memaafkan seseorang yang telah meminta maaf kepada kita? Ataukah kata, “ Sama-sama, aku juga minta maaf” hanya sebatas di lisan saja? Apakah hati kita telah murni memaafkan kesalahan mereka dengan ikhlas?
“ Jika kamu menyatakan suatu kebaikan menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. Annisa:149)
Memaafkan memang bukan perkara yang mudah, apalagi jika kesalahan orang itu sampai membuat kita kehilangan kepercayaan pada orang itu hingga kita menjadi sangat sakit hati. Kata para sufi, memaafkan harus dilatih terus menerus. Sifat pemaaf tumbuh karena kedewasaan ruhani. Ia merupakan hasil perjuangan berat ketika kita mengendalikan kekuatan diantara dua kekuatan: pengecut dan pemberang. Sifat pemaaf menghiasi akhlak para nabi dan orang-orang sholeh. Ruhani mereka telah dipenuhi sifat Allah yang Maha Pengampun.
Ada sebuah kisah menarik. Alkisah Ali bin Husein r.a sedang berwudhu, budaknya menjatuhkan wadah air ke atas kepalanya. Takut kalau sudah menyakiti tuannya, budak itu lantas menggumamkan ayat Al Qur’an surah Ali Imran ayat 134, “ … Orang-orang yang mengendalikan amarahnya… “ Kemudian Ali berkata, “ Aku tahan amarahku. “
Budak itu melanjutkan, “ … Dan orang-orang yang memaafkan orang lain…” Lantas, Ali berkata, “ Aku maafkan kamu. “
Budak itu menyelesaikan ayat itu, “ …Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. “ Ali pun berkata, “ Aku merdekakan kamu.” Subhanallah. Betapa ajaibnya memaafkan itu, sampai dia mau memerdekakan seorang budak.
Ayat yang dibacakan tadi menuntunkan bahwa menahan marah, memaafkan, dan berbuat baik harus dilakukan sekaligus. Allah menjelaskan ketiganya sebagai karakteristik orang taqwa. Menahan marah tanpa memaafkan hanya akan menumpuk penyakit. Selain itu, memaafkan tanpa berbuat baik hanya menyemarakkan ritus sosial.
Bagaimana jika kita masih menahan rasa sakit hati yang berlarut-larut karena tidak mau memaafkan orang lain ? Apa yang akan terjadi? Berikut ini kami akan menjelaskan dampaknya dari berbagai sisi.
• Bagi kesehatan
Dalam sebuah buku “ Forgive for God “ (Maafkanlah demi kebaikan ), Dr. Frederic Luskin, menjelaskan bahwa kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tidak berkesudahan baru terlihat ketika kita menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Apabila kita terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, kita tidak menyadari seperti apa kondisi normal yang seharusnya. Hal tersebut menyebabkan aliran adrenalin yang tanpa terasa membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih hingga memperburuk keadaan.
Kemarahan dapat meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, sehingga memperbesar kemungkinan terserang serangan jantung. Semakin kita menumpuk kemarahan dalam hati, semakin rentan pula akan bahaya stroke, serangan jantung, susah tidur, penyakit perut, dan sakit kepala menahun.
• Bagi kondisi psikologis
Kalau kemarahan itu tanpa sadar sudah menggerogoti kondisi fisik kita, berarti kita terserang psikosomatis. Yaitu, penyakit yang timbul akibat beban psikologis yang terpendam dalam waktu yang cukup panjang. Sehingga, kita jika psikis kita terganggu, secara otomatis kinerja tubuh kita menjadi ikut terganggu dan kurang optimal bekerjanya.
Sebenarnya melapangkan kemarahan tergantung juga pada kepribadian seseorang. Jika orang tersebut termasuk orang yang matang kepribadiaannya, maka cara berfikirnya juga logis. Dia cenderung melupakan kesalahan orang lain dan biasanya mudah memberi maaf.
Sementara itu, ada pula orang yang berfikir secara emosional. Biasanya dia membutuhkan waktu agak lama dalam memberi maaf, cenderung ragu-ragu, dan tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat.
• Bagi kondisi sosial
Soal maaf-memaafkan, kita tidak bisa melihat lebih dahulu siapa orang yang bakal kita maafkan. Karena kita tidak tahu siapa yang kita perlukan untuk menemani kita hidup di dunia ini, Kalau kita menjadi orang yang suka marah atau sering mengungkit-ungkit kesalahan orang lain pada kita, teman-teman kita secara nggak langsung akan menjauh. Semakin kita selektif melapangkan hati dan pikiran kita, makin sulit kita mendapatkan kehidupan yang menyenangkan. Kadang pertolongan itu bukan datang dari orang yang kita inginkan, tapi justru datang dari orang yang berhati tulus.
Itu tadi merupakan akibat dari menunda meamaafkan orang lain. Menurut penelitian yang dilakukan ilmuwan Amerika bahwa seseorang akan memiliki kesehatan baik jiwa maupun raga jika mampu memaafkan. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka.
Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan yang baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran, dan percaya diri. Semuanya diperoleh dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat, dan stress.
Secara psikologis, orang yang mudah memaafkan akan awet muda sepanjang waktu, karena otot mukanya terlihat relaks, sering tersenyum, dan mukanya terlihat segar.
Sang teladan kita, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalam pun juga selalu melapangkan hatinya untuk ikhlas memaafkan orang lain seperti dalam hadits nya. Beliau menjelaskan maksud kenapa Allah Subhana wa ta’ala menyeru manusia untuk memiliki sifat pemaaf, “ Barangsiapa melakukan tiga hal berikut ini, akan dihisab dengan mudah dan akan masuk surga dengan rahmatNya. Pertama, memberi kepada orang yang bakhil; kedua, silaturahim dengan orang yang memutuskannya; ketiga, memberi maaf kepada orang yang zhalim. “ (HR. Ath-Thabrani)
Subhanallah… betapa nikmatnya jika kita bisa saling memaafkan, tak sekedar bermaaf-maafan. Semoga hati kita senantiasa diberi kelapangan oleh Sang Penerima Maaf agar hati ini selalu mewarnai hidup dengan senyum dan rasa memaafkan.
From : Muslimah’s Magazine…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar ya,,, apa aja,,,